Kita tidak Sendiri

Suatu petang seorang teman datang dengan setengah berlari diantara rintik hujan yang belum reda sejak siang. Ia adalah perempuan bertubuh kecil dengan rambut sepinggang. Dari sorotnya kulihat ia sedang menahan air mata agar tidak tumpah sepanjang perjalanan menuju rumahku. Aku membuka pintu bahkan sebelum ia sempat mengetuknya…

“aku lelah,, sangat lelah” katanya sambil memelukku.

Aku tidak bertanya lebih jauh tentang apa dan mengapa ia terlihat begitu susah dan sedih. Ah,ya.. aku ingat salah satu aturan menjaga komunikasi dengan orang lain adalah dengan tidak turut campur terlalu jauh dengan urusan orang. Aku meyakini bahwa ketika ia mempercayaiku, maka ia akan bercerita tanpa kuminta. Benar saja, tidak lebih dari 10 menit ia telah melepaskan pelukannya. Ia mengusap sisa air matanya dan mulai bercerita tentang perasaannya.

Hampir 2 jam penuh ia membagi ceritanya padaku, tentang apa yang dirasakannya selama beberapa bulan belakangan ini. Tidak membutuhkan waktu lama untukku menyimpulkan tentang hidupnya yang cukup berantakan (menurutnya). Kehidupan keluarganya yang pas-pasan menuntut ia sebagai anak tertua ikut bekerja keras membantu orang tuanya, namun sejak kecil ia merasa apa yang dilakukannya selalu salah dimata orang tuanya, kerja kerasnya  tidak diakui oleh orang tuanya bahkan setelah ia memiliki usaha kecil-kecilan yang dikerjakan dirumah. Orang tuanya menuntut agar ia bekerja sebagai pegawai supaya mendapatkan gaji yang lebih besar. Beberapa bulan belakangan orang tuanya semakin sering menyinggung tentang “gaji” yang lebih besar, apalagi setelah tahu bahwa adik-adiknya mampu bekerja lebih baik di sebuah perusahaan ternama di kota itu. Ia semakin tertekan karena orang tua dan saudaranya semakin sering menanyakan “kapan kamu akan menikah”, belum lagi ditambahi dengan cara membandingkan yang khas. ah, aku tahu bagaimana rasamu, pikirku dalam hati. Ia merasa lebih mudah untuk hidup menjauh dari keluarganya untuk menghindari segala pertanyaan dan beban itu.

Kami berbincang cukup lama sampai akhirnya ia pamitan dan mengucapkan terimakasih padaku karena telah bersedia mendengar keluhannya. Aku tidak banyak berkata mendengar ceritanya, aku menanggapi seperlunya saja dan aku tidak menyadari bahwa dalam diam pun kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

……………………..

Kita belajar banyak dari apa yang kita temui sehari-hari saat kita mampu melihat dan mengambil makna sebagai bahan pembelajaran. Belajar dari yang kita alami, belajar dari apa yang kita lihat, belajar dari apa yang kita dengar. Live long Education.

Terkadang kita begitu sibuk memikirkan bagaimana sulitnya hidup yang kita alami sehingga mengabaikan kebaikan-kebaikan yang kita temui. Seringkali kira merasa hidup kita sulit dibandingkan dengan hidup orang lain yang kita nilai “lebih”.. lebih kaya, lebih cantik, lebih cakep, lebih pinter, lebih lebih lebih… sehingga kita merasa kecil dan rendah diri.

Pernahkah dalam suatu waktu kita mencatat apa yang kita miliki saat ini?

Apakah aku masih memiliki orang tua? sehatkah mereka? pedulikah mereka terhadapku? Apakah aku memiliki saudara? Apakah aku masih bisa menjalin hubungan baik dengan mereka?

Apakah aku memiliki teman di rumah? di sekolah? di kantor? apakah aku memiliki banyak teman? Apakah mereka ada saat kubutuhkan?

Apakah aku masih bisa sekolah? apakah aku sudah bekerja dan menghasilkan uangku sendiri? apakah aku bisa membagi sedikit uangku untuk pengemis atau pengamen jalanan?

Apakah hari ini aku bisa beraktivitas seperti biasa? Apakah hari ini aku akan bertemu dengan orang baru lagi? Apakah aku masih bisa tersenyum bertemu orang lain?

Apakah kita menerima senyum, salam, terimakasih dan maaf dari orang lain?

ah, ternyata sangat banyak jika kita mampu melihatnya lebih dekat.

Kita tidak sendiri dan tidak pernah hidup sendiri…. kita hanya perlu melihat dan mendengar lebih banyak dengan hati untuk memahami bahwa hidup itu singkat dan indah. Tuhan memberikan kesempatan besar  untuk kita hidup, maka sebisa mungkin jangan menyiakan kesempatan itu dengan keburukan yang tidak kita sadari. Bukankah membicarakan orang lain, mengupat, mengeluh, berprasangka buruk, tidak menghargai kerja keras orang lain adalah hal-hal sederhana yang sering terjadi dalam hidup sehari-hari.

Tetap berprasangka baik membuat hidup akan lebih tenang, membuat kedamaian dalam hati kita sendiri.. Tuhan tidak akan pernah menguji kesabaran hamba-Nya diluar kemampuan. Tuhan memberikan cobaan untuk melatih kesabaran, kedewasaan dan mempersiapkan kita menjadi pribadi yang lebih hebat dan kuat.

so..

Tetap semangat,, kita tidak pernah sendiri dan Tuhan bersama prasangka baik hamba-Nya.

Iklan

pEmbeRdayaAn PereMpuaN…

Pemberdayaan dalam bahasa inggris disebut sebagi empowerment. Istilah ini sering kali tumpang tindih dengan istilah empower (memberdayakan). Padahal sebenarnya dua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.

Istilah pemberdayaan sendiridiartikan sebagi upaya mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki masyarakat, dengan kata lain pemberian kekuatan pada masyarakat lokal agar menjadi sebuah sistem yang bisa mengorganisasi diri mereka sendiri secara mandiri. individu bukan sebagai obyek, melainkan sebagai pelaku yang mampu mengarahkan diri mereka sendiri.

Payne (1997:266) mengatakan bahwa “Empowerment seeks to help client gain power of decision and action over their own lives by reducing the effect of social or personal blocks to exercising existing power,  by increasing capaciti and self confidence to use power and by transferring power from the environment to clients”

Pemberdayaan dalam Pendidikan Luar Sekolah (PLS) bisa dibagi menjadi 3, yaitu pemberdayaan perempuan, pemberdayaan pemuda, dan pemberdayaan masyarakat. Pada dasarnya konsep pemberdayaan pada ketiganya adalah sama, hanya saja pelakunya yang berbeda. Pada pemberdayaan perempuan misalnya maka yang menjadi pelaku pemberdayaan dikhususkan pada perempuan, begitu juga pemberdayaan pemuda dan pemberdayaan masyarakat. Hanya saja pemberdayaan masyarakat memiliki cakupan yang lebih luas lagi.

SIWU dan Pemberdayaan Perempuan

Salah satu contoh bentuk pemberdayaan perempuan adalah melalui SIWU. SIWU (Special Initiative Women Unemployment) atau sering juga disebut dengan PKPP (Prakarsa Khusus untuk Penganggur Perempuan) adalah program penyelamatan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan dengan mengadakan lapangan kerja bagi perempuan di daerah perkotan. Penerima manfaat dari program ini adalah perempuan korban PHK, penganggur, ibu rumah tangga yang ingin bekerja dll.

Adapun kegiatan dalam SIWU ini antara lain:

  1. Pelayanan sosial pada masyarakat: kegiatan ini lebih banyak diarahkan pada pemberian upah kerja dalam melakukan suatu pekerjaan layanan publik. Misalnya pelayanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas, bantuan guru sekolah dll.
  2. Pekerjaan Umum dan Pemeliharaan: kegiatan ini dapat berupa pemberian upah dan pengadaan bahan bagi perbaikan atau pemeliharaan prasarana umum seperti jalan dan drainase atau sarana umum dan sosial seperti rumah sakit, pasar tradisional, tempat beribadah dll.
  3. Pelatihan dalam rangka pemerdayaan: kegiatan dapat dilakukan dalam bentuk pelatihan untuk perempuan dalam rangka peningkatan ketrampilan dan pengetahuannya dalam memasuki pasar kerja.

Kegiatan SIWU diawali dengan pengusulan proposal dari proponen (pengusul proposal). Proponen terdiri dari lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah yang sudah berdiri setidaknya 2 tahun. Total biaya yang diusulkan berkisar antara Rp. 50 juta hingga Rp. 400 juta. Tahap selanjutnya adalah seleksi dan review proposal oleh komite provinsi dan kemudian hasil tersebut di verivikasi oleh komite pusat. Kriteria pemilihan proposal:

  1. Target kemiskinan: dengan indikator lokasi kegiatan, jumlah tenaga kerja perempuan terhadap total tenaga kerja
  2. Dampak terhadap kemiskinan: perbandingan antara biaya upah dengan biaya lainnya, lama kegiatan
  3. Manfaat sosial kegiatan
  4. Peningkatan ketrampilan perempuan

Organisasi pelaksana SIWU terdiri atas tingkat pusat dan tingkat propinsi.

  • Tingkat Pusat: terdiri atas tim koordinasi pusat, Unit Pengelola Proyek Pusat/CPMU(central project management unit), pemimpin proyek/pemimpi bagian, dan konsultan monitoring dan manajemen dan konsultan penyebarluasan informasi.
  • Tingkat Propinsi: terdiri atas tim koordinasi Propinsi, Unit Pengelola Proyek Propinsi/PPMU(provincial project management unit), pemimpin bagian proyek propinsi, Konsultan monitoring dan Manajemen Propinsi, Pelaksana kegiatan (terdiri atas instansi pemerintah seperti Kecamatan dan Bappeda, dan organisasi non pemerintah seperti LSM, perguruan tinggi, yayasan dll.

Adapun beberapa daerah yang telah melaksanakan program SIWU diantaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Tmur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Sasaran program ini adalah perempuan berusia 18-60 tahun, tidak termpil, dari rumah tangga miskin yang tidak memiliki pengahasilan tetap dan terkonsentrasi diwilayah perkotaan.

-seperti lainnya juga… semoga bermanfaat-

Sumber:

Direktorat Jendral Perumahan dan Permukiman. Pemberdayaan Perempuan melalui SIWU: penyiapan lapangan kerja bagi perempuan tidak terampil.

PLS: Pilihan atau… (kesasar?!^.^)

Akhir Mei…

Pengumuman hasil belajar selama 3 tahun di SMA/SMK/MA sudah keluar. Pengumuman kelulusan disambut dengan berbagai macam ekspresi dan rasa  ditemukan pada wajah-wajah mereka. Tegang, tenang, was-was.. takut gak lulus… Pokoknya campur aduk. Gak percaya??? boleh di cek kok.

Biasanya setelah itu mereka yang mau kuliah sibuk nyari tempat oke buat nglanjutin studi, bahkan banyak yang jauh-jauh hari belum UN sudah ribet nyari universitas. Pokoknya mulai dari yang (saya tahu) UM-UGM, SM-UNY, SNMPTN (ato dulu SPMB), PMB lewat PBUD, …. dll. Dari yang universitas negri sampai swasta, dari yang “HIGH CLASS” sampe yang… biasa aja. Lengkap pokoknya…

Nah,, sekarang kan banyak banget itu yang namanya jurusan. Mulai dari yang terkenal banget karena saking banyaknya peminat sampai yang biasa aja ato bahkan gak semua orang tau. Sebut misalnya kedokteran, hukum, HI… atau kalau pendidikan PGSD, Fisika, Biologi, Matematika, Kimia dan setingatnya, ato Bahasa Inggris, olahraga..  dkk. Itu jurusan-jurusan yang banyak dikenal sama orang.

Ini nih yang sedikit unik dan lucu mungkin… Fenomena PLS. Menurut sepengetahuan saya.. (mungkin pengalaman pribadi juga.. hehe), ada banyak “anak PLS” yang ditanya, kenapa masuk PLS? jawabannya… 1) kesasar; 2) tidak ke-trima pilihan 1 alias cadangan; 3) daripada nganggur gak kuliah… Ya meskipun ada juga yang memang mencantumkan PLS di pilihan 1 jurusan mereka,,, (tp usut punya usut… ada juga yang gak ikhlas walo di pilihan 1,, hehe, katanya). Kenapa demikian? Sedemikian HIGH-nya sampai orang gak tau dan tidak mau atau karena memang masih sebegitu asingnya?

Ada apa dengan PLS??? Hmm…

Pendidikan Luar Sekolah…PLS. PLS itu masuknya ke PNFI… aduh! apa lagi tuh? PNFI itu singkatan dari Pendidikan Non Formal-Informal.

Seperti kita ketahui bahwa jalur pendidikan itu ada 3, yaitu pendidikan Formal, Nonformal dan Informal. Lalu apa bedanya?!

  1. Pendidikan Formal: merupakan pendidikan yang berstruktur dan berjenjang di mulai dari pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi. Pendidikan ini yang kadang di istilahkan “bangku sekolah”.
  2. Pendidikan Nonformal: merupakan jalur pendidikan berstruktur dan berjenjang diluar pendidikan formal. Hasil pendidikannya dapat diakui setara dengan pendidikan formal setelah melalui penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk olek Pemerintah atau Pemerintah Daerah, yang mengacu pada standar nasional pendidikan. Pendidikan Nonformal sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal. Beberapa diantaranya meliputi pendidikan kecakapan hidup, kepemudaan, pemberdayaan, keaksaraan, ketrampilan, pelatihan kerja, kesetaraan, kelompok belajar, kursus dll.
  3. Pendidikan Informal: merupakan jalur pendidikan yang pembelajarannya dilakukan secara mandiri oleh lingkungan dan keluarga. Hasil pendidikannya diakui sama dengan pendidikan formal dan informal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar pendidikan nasional. contoh mudahnya pendidikan agama, budi pekerti, etika, sopan santun dll.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) adalah pendidikan yang dirancang untuk membelajarkan warga belajar agar mempunyai dan mengembangkan ketrampilan dan atau pengetahuan serta pengalamannya diluar jalur formal. PLS sebagai pelengkap, penambah maupun pengganti pendidikan formal pada umumnya. PLS sebagai pelengkap misalnya pendidikan lembaga kursus, pelatihan, try out dll. PLS sebagai penambah dimaksudkan untuk menambah pengetahuan yang tidak diperoleh disekolah formal misalnya privat, les, training dll. Sementara PLS sebagai pengganti dimaksudkan bahwa keberadaannya dapat menggantikan pendidikan formal bagi orang yang kurang beruntung, misalnya: Kesetaraan (Kejar Paket A, B, dan C)

PLS sendiri sebenarnya memiliki banyak bidang garapan yang sebenernya ngaruh banget di masyarakat secara langsung, tengoklah… PAUD, Keaksaraan (Pemberantasan buta aksara), Kesetaraan (Kejar Paket A, B, C), life-skill, Pemberdayaan (masyarakat, pemuda, perempuan..). Contoh kecil yang agak terabaikan misal tentang anak jalanan, wah! Jelas banget kan sebenernya PLS itu sangat dekat dengan kita, hanya saja memang belum semua orang tahu tentang PLS. Hal itu bisa saja karena sebelumnya memang jarang orang yang masuk kesana, atau kalau boleh meminjam istilah ketua PKBM di tempat saya, “karena kran-nya belum dibuka, jadi belum ngalir keluar”.

Tapi  (kita yang mungkin) sebagai seorang bagian dari PLS boleh bangga kok, sekarang PLS sudah lebih banyak dikenal masyarakat luas. Dan ada banyak hal yang bisa kita ketahui terkait PLS melalui PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) atau lengkapnya P2PNFI.

Kata saya,, kalau seseorang itu sudah “ditakdirkan” hidup dengan masyarakat dan lingkungannya, maka PLS akan sangat cocok sekali bagi mereka.. ^.^

karena saya masih sama belajar dan atau masih mendalaminya,, dan saya juga lelah plus sudah buntu mau nulis apa lagi… sudah saja.. ^_^


Homeschooling..

Homeschooling…

Kalo diartikan secara bodhon, home berarti rumah.. school berarti sekolah. Jadi jelas bukan? Homeschooling = sekolah rumah. Homeschooling adalah salah satu alternatif yang ditawarkan oleh pemerintah bagi seseorang yang ingin mengembangkan pendidikannya dalam keluarga, proses pembelajarannya dilakukan dirumah, yang bisa dilakukan oleh orang tua dengan mendatangkan tutor atau guru les. Homeschooling disebut juga dengan home education atau home-based learning.

Pada umumnya orang tua memilih jalan homeschooling bagi anaknya karena merasa tidak puas dengan sistem pendidikan disekolah formal pada umumnya.

Homeschooling telah banyak dikenal masyarakat luas, namun demikian tidak semua orang awam mengerti banyak tentang homeschooling. Hal ini disebabkan karena mindset masyarakat bahwa “homeschooling hanya berlaku untuk orang ber-duit “. Padahal dalam kenyataannya beberapa orang justru memandang bahwa homeschooling lebih murah karena mereka dapat mengatur sendiri budget untuk pembayarannya, tidak terikat membayar uang sekolah, seragam, pembayaran buku baru atau pembayaran wisuda lepas lulus sekolah seperti di sekolah formal pada umumnya.

Keberadaan Homeschooling juga sudah di-legalkan oleh pemerintah. Dasar hukumnya jelas tercantum dalam UUD 1945 maupun dalam UU No 20 th 2003 tentang Sisdiknas. Secara eksplisit UU Sisdiknas mengakui keberadaan pendidikan berbasis keluarga dan lingkungan. Pendidikan keluarga yang disebut sebagai pendidikan informal.

Homeschooler juga dapat melanjutkan ke sekolah formal melalui ujian kesetaraan. Ujian  kesetaraan keluarga homeschooling bersifat pilihan. Untuk mengikuti ujian kesetaraan maka keluarga homeschooling harus mengintegrasikan kurikulum dan bahan pelajaran yang diujikan dalam ujian kesetaraan kedalam program pembelajaran homeschooling. Ujian kesetaraan ini mencakup ujian kesetaraan paket A (setara SD), paket B (setara SMP/MTs) dan paket C (setara SMA/SMK/MA). Ujian kesetaraan ini dilakukan oleh lembaga nonformal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Komunitas sekolah rumah atau Umbrella school. Kemudahan mengikuti ujian ini dapat dilakukan dengan menggunakan kebijakan Alih Kredit Kompetensi (AKK),yaitu tes kemampuan dan pengakuan bagi para homeschooler yang tidak memiliki dokumen, sementara homeschooler yang memiliki dokumen seperti raport dan transkrip nilai,pembelajarannya bisa langsung dikonversi dan lagsung memiliki hak untuk mengikuti ujian kesetaraan.

Pembelajaran homeschooling sedikit berbeda dengan pembelajaran pada sekolah formal. Pada sekolah formal biasanya belajar dalam sebuah ruang dan menggunakan buku modul, sementara homeschooling biasanya justru menggunakan fasilitas umum dan sosial sebagai tempat dan obyek belajar, misalnya pasar, terminal, stasiun, panti, sawah, perpustakaan,musium, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Oleh karena Homeschooling merupakan pendidikan nonformal, maka pelaksanaan pembelajaran juga lebih fleksibel. Sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak.

Pada sekolah formal sering muncul istilah anak pandai dan tidak pandai. Padahal dalam kenyataannya sebenarnya semua memiliki hal yang sama untuk menyandang kata pandai dan cerdas. Meminjam istilah Howard Gardener tentang kecerdasan majemuk atau sering disebut multiple-intelligences. Bahwa pada dasarnya terdapat 9 macam kecerdasan yang dimiliki oleh manusia, meliputi: kecerdasan linguistik(bahasa), logis-matematis, spatial(keruangan), kinetis-jasmani(gerak), musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan kecerdasan eksistensial. Pada sekolah formal biasanya hanya mengembangkan salah satu atau beberapa kecerdasan yang ada dan bersifat kognitif, tapi pada homeschooling membuka peluang bagi anak untuk mengembangkan semua kecerdasan yang dimilikinya. Dalam artian pengembangan individual lebih bisa ditekankan.

Metode dalam homeshooling meliputi 8 macam, yaitu:

  1. School at-home,  adalah model pendidikan serupa yang diselenggarakan, namun pelaksanaannya dirumah.
  2. Unit Studies Approach, adalah model pendidikan yang berbasis tema. Dalam hal ini anak tidak belajar satu mata pelajaran tertentu saja, namun mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari.
  3. The Living Books Approach, adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik, ketrampilan dasar (ca-lis-tung), dan mengenalkan anak dengan pengalaman nyata dalam hidup sehari-hari.
  4. The Classical Approach, adalah model pendidikan dengan pendekatan kurikulum berbasis literatur/teks
  5. The Waldrorf Approach, adalah model pendidikan yang menciptakan setting sekolah yang mirip dengan keadaan dirumah
  6. The Montessori Approach, adalah model pendidikan dengan pendekatan penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak dengan lingkungan dan menumbuhkan lingkungan agar anak dapat mengembangkan potensinya.
  7. Unschooling Approach, adalah model pendidikan yang berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan naturak untuk belajar
  8. The Ellectriv Approach, adalah model pendidikan dengan memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschoolingnya.

Belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Semua yang tersedia disekitar kita adalah obyek untuk belajar, mendapatkan ilmu. Hanya kita perlu sedikit sadar dan pandai-pandai mencari dan menggali untuk mendapatkannya.

-tetap semangat untuk mendapatkan apa yang diharapkan. Semoga yang sedikit ini bermanfaat-


Hidup itu….

Hidup…

Apa sih hidup itu?!

Orang bilang.. ada jeda antara hidup dan mati.. diselanya ada nafas yang harus diisi dengan banyak hal, itulah kehidupan.

Benarkah??

Bagiku hidup itu sebuah proses menuju ke…

Terserah orang lain mau bilang apa… tapi  bagiku tetap demikian itu. Menuju “ke”…

Entah itu kesedihan, kebutukan, kebahagiaan… semuanya. Atau mungkin lebih tepatnya… Kematian. Namun disemua itu.. bila proses “ke” itu belum menjadi sesuatu  seperti diharapkan… yakini saja. Itu semua tetap berujung pada kebaikan.

Hidup itu…

Kematian itu….

Memang seperti itu tahapnya… dimulai dari kita adalah sebuah zigot yang akhirnya berkembang dan terus berkembang, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua,,, dan akhirnya mati. Bukankah semua juga demikian?

Daur hidup pohon juga serupa itu… ada masa ketika ia bertunas, tumbuh, subur kala hujan, kering gugur saat kemarau dan pada akhirnya ia semakin tua dan mati.

Karena memang demikian itu…

Ia yang mencipta segalanya, maka pada-Nya juga apa yang ada kembali.

Hidup di dunia ini sebentar sebenarnya… namun sebagian manusia tetap saja tidak mengakui, bagi mereka,, yang sebentar ini tetap waktu yang lama. Sementara mereka tak pernah tahu apa yang telah ditetapkan. Seberapa lama waktu didunia yang seharusnya digunakan sebaiknya memaknao, mengayati hidup dengan sebaiknya…

Sejenak mengagumi dibalik seorang bernama manusia…

Subhanallah…

Demikian itukah asal kita sebagai seorang manusia.Mengagumkan…

Tiada selain Ia yang mampu…

Namun kita… seringkali alpa. Terlampau sering meniadakan.. sementara sebenarnya Ia sungguh dekat dan ada dimana-mana. Dan kita menjauhi-Nya..

Menjauhi untuk pada akhirnya kembali pada-Nya.

Sungguh beruntung mereka yang menyadari betapa berharganya hidup yang sebentar ini. Karena mereka akan melakukan yang terbaik yang disukai-Nya. Bentuk penghargaan diri telah di ciptakan-Nya. Mempersiapkan yang terbaik untuk kembali pada-Nya..

Semoga kita adalah termasuk orang-orang yang sadar dan memaknai hidup sebaiknya…